×

Apa Yang Anda Lakukan Saat Pertama Kali Terpanggil Ke Tanah Suci?

Apa Yang Anda Lakukan Saat Pertama Kali Terpanggil Ke Tanah Suci?

Urusan ibadah, kadang memang menjadi urusan ghaib. Justru keghaiban itulah pula yang diungkit di surat al-baqoroh : “Yaitu orang-orang yang mempercayai hal (urusan ghaib), dan mendirikan sholat, dan menginfakkan harta yang telah menjadi rezeki mereka,’ sebagai satu syarat mutlak untuk mendekatkan diri kepada Alloh.

Menjawab pertanyaan dari judul diatas, maka paling hikmat adalah mempasrahkan panggilan tersebut kepada Alloh lagi. Kadang kala, banyak orang mempermasalahkan sikap pasrah sebagai sikap yang lemah. Seakan-akan hanya mengikuti aliran hidup tanpa ada aturan.

Justru dengan sikap pasrah, sebenarnya orang berada dalam posisi nya yang paling kuat. Siapa makhluk di muka bumi yang akan menentang  sebuah keputusan jika manusia berpasrah dan hanya dibarengi oleh Alloh SWT?

Lalu apakah pasrah hanya berupa pasrah saja? Tidak, sikap pasrah akan disertai jalan yang tidak di-nyana. Jalan yang kemudian muncul karena ikhtiyar manusia. Hal itu menjadi kisah nyata seorang jamaah haji dari Pasuruan yang bahkan hanya berjualan pisang dan hasil bumi di depan rumahnya.

Pada suatu malam, rasa panggilan itu tidak tertahan lagi. Hati sang jamaah ini begitu bergetar saat melihat liputan dari tanah suci lewat berita di televise. Rasa itu manjing, panggilan itu sudah terdengar, dan ia hanya bisa sujud menikmati indahnya panggilan yang  difasilitas liputan haji.

“Uang sepeserpun tidak ada mas,” katanya. “Saya tidak tahu, darimana biaya-biayan yang harus saya keluarkan untuk memenuhi panggilan itu,” tambahnya lagi. 

Kebingungan sempat melanda, tapi keyakinan itu melebihi kebingungannya saat itu. Tiada lain, keyakinan itu dia kembalikan kepada Alloh. “Ya Alloh, ini adalah panggilan-Mu, hanya Engkaulah Yang Maha Tahu, jalan apa yang harus saya tempuh untuk membiayainya,” katanya.

Seminggu berlangsung, ternyata ia sudah lupa akan niatannya itu. Ia pun menjalani kehidupan sehari-hari layaknya tidak ada yang berbeda. Hingga akhirnya ada seorang petani pisang yang kebetulan sedang berhenti sejenak di depan rumahnya. Si petani bilang : bolehkah jika hasil taninya ditaruh di depan rumah, siapa tahu ada yang membeli.

Dengan ringan, sang bapak ini mengiyakan. Silih berganti para petani nitip pisang, kubis, papaya, dan semua hasil bumi dari tanah Pasuruan untuk ditaruh di depan rumah. Silih berganti pula ada orang yang membeli, satu persatu, hingga biaya haji-nya tercover karena kegiatan jual beli hasil bumi tersebut. 

Kisah semacam ini banyak terjadi di seputaran kita. Bahwa panggilan ke tanah suci itu nyata, pun juga rezeki untuk berangkat kesana juga sudah disediakan oleh Alloh SWT. Hanya hati yang siap dan mumpunilah yang mampu untuk mencerna logika ghaib melalui kisah-kisah tersebut. 

Ada yang bercerita bahwa biaya ke tanah suci diganti saat berdoa di depan ka’bah….

Ada pula yang sudah menyiapkan proposal doa sejak dari tanah air untuk dibacakan di depan roudloh, agar semua target dan cita-citanya tercapai…

Ada pula yang berjualan selama sekian tahun dan menabung dan akhirnya bisa berangkat…

Bagi kami, cerita naik haji adalah kisah ghaib, dari situlah kita bisa belajar bahwa hal-hal ghaib itu nyata. Tinggal kita mengikhtiyarinya dengan nikmat dan hikmat. Dengan berpasrah melakukan kegiatan rutin, dan jawaban kepastian biaya itu akan muncul dari hal-hal yang tidak terduga.

Perjalanan ke tanah suci, sudah seyogyanya menjadi pengalaman hikmat bagi setiap individu. Pengalaman batin yang sangat subyektif, dan bisa jadi, disitulah komunikasi Anda dengan Alloh terbentuk.

Apa Kata Mereka

Abu Rumaisha

Syukur Alhamdulillah... semoga perjalanan menuju Baitullah yang sudah terlampaui menjadi tambahan ibadah yang diridhai Allah SWT. dan bagi Alfath Putra Tour Surabaya semoga pekerjaan melayani kami para jamaah menjadi amalan ibadah.. SUKSES dan TETAP BERKUALITAS dalam PELAYANAN

Abu Rumaisha